PENDIDIKAN YANG BERSTANDAR NASIONAL DAN BERWAWASAN GLOBAL

Berita

Oleh: Wanto, M.Pd

ABSTRAKSI

Kompetensi professional guru sekolah dasar dalam penggunaan alat peraga matematika sebagai alat bantu pembelajaran untuk menanamkan konsep-konsep masih perlu ditingkatkan. Alat peraga dapat mambantu guru dalam menanamkan dan menguatkan konsep yang diberikan kepada peserta didik. Kompetensi professional guru dalam penggunaan alat peraga matematika dalam pembelajaran dapat ditingkatkan salah satunya dengan program diklat.

Kata Kunci: Kompetensi guru, Alat Peraga, diklat

Artikel.

Permasalahan kompetensi guru akhir-kahir ini menjadi perbincangan yang hangat, baik dari kalangan guru sendiri, pemerhati pendidikan, dan pemerintah. Kompetensi guru mulai dipertanyakan oleh banyak pihak, walaupun sudah banyak hal yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru, misalnya pemberian dana block grand bagi kelompok kerja, diklat guru, dan yang paling mendapat sorotan tajam adalah pemberian sertifikasi guru. Sertifikasi guru disinyalir oleh banyak pihak belum dapat meningkatkan kompetensi guru, yang diharapkan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Harapan pemerintah bahwa sekian persen dari dana sertifikasi guru digunakan untuk pengembangan diri, misalnya mengikuti kursus, membeli buku pegangan guru, akses internet, nampaknya tidak terwujud. Kenyataan yang terjadi justru sebaliknya; banyak guru yang telah mendapatkan sertifikasi, berbondong-bondong membeli barang-barang. mewah misalnya mobil, dll. Fakta menunjukan bahwa banyak guru yang telah mendapatkan dana sertifikasi, ternyata belum berubah dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Keadaan ini menimbulkan kecemburuan bagi guru yang belum mendapatkan dana sertifikasi guru. Pemerintah dalam hal ini kemdikbud tetap menjalankan apa yang sudah direncanakan dengan tujuan untuk mengetahui/memetakan kompetensi guru yang berada di bawah naungannya. Pemetaan kompetensi guru sangat berguna sebagai acuan penyusunan program, sebagai usaha untuk meningkatkan kemampuan guru dalam proses pembelajaran di kelas. Guru yang kompeten dapat memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan dan proses pembelajaran akan bermakna bagi peserta didik. Hal tersebut sangat diharpkan oleh banyak pihak yang bermuara pada meningkatnya mutu pendidikan di sekolah dan tercapainya tujuan pendidikan nasional seperti yang diharapkan.

Kompetensi Guru

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa jabatan guru sebagai pendidik merupakan jabatan profesional. Profesionalisme guru dituntut terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kebutuhan masyarakat. Guru sebagai ujung tombak pendidikan yang berada di barisan terdepan dalam meningkatkan mutu pendidikan sekolah. Guru secara berkesinambungan mengembangkan diri dan memperbaharui pengetahuan keilmuannya untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang terbaru, agar materi yang di sampaikan kepada peserta didik adalah materi yang terkini. Guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab VI pasal 28 ayat 1, menyatakan bahwa pendidik harus memenuhi kualifikasi akademik dan memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasamani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sebagai agen pembelajaran, guru dituntut untuk memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut harus dikembangkan secara utuh sehingga teritegrasi dalam kinerja guru.

Komponen kompetensi yang dimaksud adalah:

  1. Profesional : menguasai bidang ilmu dan metodologi keilmuannya;
  2. Pedagogik : memahami landasan pendidikan untuk pembelajaran kreatif yang;
  3. Kepribadian : menjadi teladan, jujur, demokratis, dan secara objektif mengevaluasi kinerjanya;
  4. Sosial : Berkomunikasi secara efektif lisan maupun tulisan dan mampu menggunakan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).

Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru, kompetensi pedagogik yang harus dikuasi adalah mengenal karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, social, cultural, emosional, dan intelektual. Kompetensi pedagogic menuntut guru mengetahui antara lain: kemampuan awal dan kesulitan belajar peserta didik. Kompetensi profesional yang harus dimiliki oleh guru matematika adalah mampu menggunakan alat peraga, alat ukur, alat hitung, dan piranti lunak computer. Keberhasilan pembelajaran mata pelajaran matematika di kelas bergantung kepada kemampuan guru dalam menanamkan konsep kepada peserta didik. Mata pelajaran matematika sangat abstrak sehingga menuntut guru dalam mengemas sebuah pembelajaran menjadi menarik bagi peserta didik. Penanaman konsep matematika akan lebih bermakna bagi peserta didik dengan menggunakan alat bantu yang disebut alat peraga. Kreativitas dan inovasi guru dalam memilih alat peraga yang tepat dengan materi ajar dan karakteristik peserta didik erat kaitannya dengan keberhasilan proses pembelajaran.

 

Fakta Di Lapangan

Hasil Uji Kompetensi Awal guru SD yang dilaksanakan pada awal tahun 2012 secara serentak di Provinsi Kalimantan Tengah terdapat 957 guru SD tidak memenuhi batas minimal syarat nilai kelulusan. Guru yang tidak lulus UKA dilaksanakan Diklat untuk meningkatkan kompetensi professional guru. Pelaksanaan diklat paska UKA dilaksanakan bulan Juli sampai bulan November 2012 yang bertempat di LPMP provinsi Kalimantan Tengah, penulis memperoleh gambaran bagaimana guru dalam melaksanakan proses pembelajaran matematika di sekolah dasar banyak yang langsung menggunakan simbol-simbol tanpa menggunakan alat peraga sebagai alat bantu untuk menjelaskan dan menanamkan konsep matematika kepada peserta didik. Proses pembelajaran yang terjadi tidak menarik dan bermakna. Peserta didik tidak dapat mengaplikasikan hasil pembelajaran terhadap permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang dikemas dalam bentuk soal cerita. Pembelajaran yang tidak bermakna membuat bingung dan ketidaksenangan peseta didik terhadap mata pelajaran matematika. Penggunaan alat peraga sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran matematika dapat menjembatani guru dalam menyampaikan materi kepada peserta didik yang abstrak menjadi konkrit.

Alat Peraga

Alat peraga adalah alat untuk menerangkan atau mewujudkan konsep matematika (Ruseffendi, 1994). Alat peraga untuk menerangkan konsep matematika dapat berupa benda nyata, gambar, dan diagram, dengan kata lain apa saja yang berada di sekitar guru dapat digunakan sebagai alat peraga untuk membantu menyampaikan pengetahuan, fakta, konsep, prinsip matematika ke peserta didik agar lebih nyata atau konkrit. Wujud alat peraga:

  1. Alat peraga benda asli

Benda asli yang digunakan sebagai alat peraga, misalnya peserta didik, meja , kursi, bola, dll.

  1. Alat peraga benda tiruan

Benda bukan asli yang digunakan sebagai alat peraga seperti: gambar yang dapat dimanfaatkan oleh guru untuk membantu dalam menyampaikan materi matematika.

Alat peraga dapat dikelompokkan sebagai alat peraga sederhana dan alat peraga buatan pabrik. Alat peraga sederhana dapat dibuat dengan memanfaatkan bahan seperti karton, kardus, dan proses pembuatan dapat dilakukan oleh guru sendiri, misalnya: bangun datar, bangun ruang. Alat peraga buatan pabrik pada umumnya proses pembuatannya memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi, misalnya timbangan badan.

Alat peraga merupakan salah satu komponen yang menentukan efektivitas proses pembelajaran, alat peraga membantu guru dalam menyampaikan materi yang abstrak menjadi konkrit atau realistic. Hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam penggunaan alat peraga sebagai alat bantu pembelajaran adalah kesesuaian alat peraga dengan materi yang diajarkan agar mencapai tujuan yang diinginkan. Fungsi alat peraga menurut Pujiati (2004) sebagai berikut:

  1. Sebagai media dalam menanamkan konsep-konsep matematika;
  2. Sebagai media untuk menunjukkan hubungan antara konsep matematika;
  3. Sebagai media untuk menunjukkan hubungan antara konsep matematika dengan dunia di sekitar kita serta aplikasi konsep dalam kehidupan nyata.

Dalam memahami konsep-konsep matematika setiap individu dan juga umur sangat berbeda. Hal ini didukung oleh pendapat Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak yang dikategorikan menjadi 4 kategori. Anak usia 7 tahun sampai 11 tahun adalah operasional konkrit. Usia 7 tahun sampai 11 tahun adalah masa pendidikan di sekolah dasar. Konsep abstrak matematika yang baru dipahami peserta didik perlu diberikan penguatan supaya lebih bermakna, sehingga tertanam lebih lama. Salah satu media yang dapat digunakan dalam upaya tersebut adalah alat peraga.

Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)

Pendidikan menurut UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Jadi menurut UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 pendidikan lebih terkait dengan tujuan-tujuan individu dan jarang berhubungan dengan tujuan organisasi, misalnya kompetensi individu.

Pelatihan adalah sebuah proses sistematis untuk mengubah perilaku kerja seorang/kelompok pegawai dalam usaha meningkatkan kinerja organisasi (Ivancevich, 2008), sedangkan Mathis (2002) pelatihan adalah suatu proses dimana orang-orang mencapai kemampuan tertentu untuk membantu tujuan organisasi. Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka disimpulkan pelatihan terkait dengan keterampilan dan kemampuan pegawai dalam rangka mecapai tujuan organisasi. Pelatihan berorientasi bagaimana menyiapkan pegawai untuk bisa melaksanakan pekerjaan sehari-hari dengan efektif dan efisien.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 101 tahun 2000 tentang pendidikan dan pelatihan jabatan pegawai negeri sipil, menyatakan bahwa untuk membentuk sosok pegawai negeri sipil seperti tersebut di atas, diperlukan pendidikan dan pelatihan yang mengarah salah satunya pada: Peningkatan kompetensi teknis, manajerial, dan atau kepemimpinannya, yang bertujuan: meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas jabatan secara professional dengan dilandasi kepribadian dan etika pegawai negeri sipil sesuai dengan kebutuhan instansi. Mengacu pada PP No. 101 tahun 2000 tampak bahwa pendidikan dan pelatihan yang di garap adalah aspek kognitif, afekktif, dan prsikomotor atau masalah yang dihadapi oleh pegawai dalam melaksanakan tugas sehari-hari.

Dalam melaksanakan diklat maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh lembaga pelaksana diklat, antara lain: sasaran, kurikulum, sarana, peserta dan pelaksanaan. Pertama kali yang harus ditetapkan dalam diklat adalah sasaran dari program diklat yang diarahkan kepada pencapaian tujuan organisasi, sehingga dengan sasaran yang jelas lembaga diklat akan bisa menentukan kurikulum diklat, peserta diklat, dan waktu pelaksanaan diklat, tidak terkesan asal kegiatan berjalan, tetapi dengan diklat dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi pegawai (guru). Diklat diselenggarakan apabila memang kebutuhan tersebut memang ada, dan kebutuhan itu berasal dari analisis yang tepat.

Berdasarkan fakta-fakta yang diungkapkan di atas tentang kondisi guru, perlu diadakan tindakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi guru. Melihat permasalahan yang dihadapi oleh banyak guru, maka diklat merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. Dalam program diklat dapat di masukkan materi, antara lain: membuat alat peraga sederhana, pemilihan alat peraga dengan kesesuaian materi, menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran. Hasil mengikuti diklat guru dapat mengaplikasikan dalam proses pembelajaran matematika di sekolah, guru tidak hanya terpaku pada alat peraga buatan pabrik, tetapi guru akan semakin kreatif untuk membuat alat peraga sendiri yang sesuai dengan materi dan karakteristik peserta didik.

Penutup.

Dari uraian di atas penggunaan alat peraga dalam proses pembelajaaran matematika di kelas akan membantu guru dalam menanamkan konsep maupun mengkonkritkan materi yang abstrak. Kemampuan guru dalam pemilihan alat peraga yang sesuai dengan materi yang diajarkan menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Kompetensi professional guru dalam hal penggunaan alat peraga dapat ditingkatkan salah satunya dengan pelaksanaan program diklat penggunaan alat peraga matematika.

(Penulis adalah Widyaiswara Pertama di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah)

 

 

 

oleh :

Mardiyanta,S.Pd, m.Pd

Upaya peningkatan mutu pendidikan antara lain melalui peningkatan kualitas proses belajar mengajar di sekolah. Posisi guru sebagai ujung tombak peningkatan proses belajar mengajar memegang peranan penting, yang bermuara pada pencapaian standar keberhasilan belajar peserta didik. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki profesionalisme dalam melaksanakan tugasnya.

Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”.

profesionalisme guru yang dituntut dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional belum sepenuhnya terwujud, hal ini tampak dari kecenderungan guru sebagai pelaku proses pembelajaran masih belum menunjukkan kemampuan yang tinggi dalam mengelola proses pembelajaran.

Fakta yang terjadi saat ini adalah pembelajaran di kelas masih didominasi oleh metode ceramah. Salah satu faktor penyebabnya adalah guru kurang memahami cara membelajarkan siswa. Seringkali terjadi, guru yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran tidak berterus terang tentang kesulitannya atau tidak ada teman yang bias diajak mendiskusikan cara memecahkan kesulitannya. Mereka tidak mau mengambil resiko, sehingga metode ceramah merupakan metode yang paling dominan diterapkan di kelasnya. Kalaupun siswa diajak untuk diskusi dan bekerja dalam kelompok, kegiatan ini diadakan kuarang terarah sehingga siswa kurang dapat memahami substansi materi pelajarannya.

Penulis sebagai fasilitator dalam pelatihan peningkatan kompetensi guru   dalam kegiatan MGMP sering terungkap permasalahan di dalam perencanaan dan proses, pembelajaran, diantaranya :  1) guru mengalami kesulitan dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), 2) guru kesulitan menyusun lembar kerja (LKS), sehingga dalam proses pembelajaran jarang menggunakan LKS, 3) pemilihan metode kurang relevan dengan tujuan dan materi pembelajaran. pemilihan metode cenderung monoton, yaitu menggunakan metode ceramah sehingga kurang menarik, 4) guru belum membangkitkan minat siswa dan belum memberikan perhatian yang sama bagi semua siswa, 5) guru kurang mampu membimbing kelompok kecil maupun kelompok besar, 6) guru kurang mampu mendeteksi kesulitan siswa didalam memahami materi pelajaran.

Perbaikan pembelajaran Melalui Lesson study

       Lesson study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Lesson study adalah suatu metode analisis kasus pada praktik pembelajaran, ditujukan untuk membantu professional para guru dan membuka kesempatan bagi mereka untuk saling belajar berdasar praktik-praktik nyata di tingkat kelas. lesson study dibagi menjadi tiga bagian: perencanaan, pelaksanaan dan observasi, dan refleksi.

Tujuan adalah 1) agar para guru bisa saling belajar dari realita-realita pembelajaran siswa dalam kelas yang nyata: 2) pada lesson study berbasis bidang studi, untuk memperkuat latar belakang mereka tentang materi pelajaran.

       Perencanaan  sebagai tahapan awal dari Lesson study ada beberapa hal yang dilakukan yaitu : penentuan topic, pemilihan metode, pemilihan media, penyusunan lembar observasi, penentuan guru model (guru buka kelas); persiapan untuk Open Lesson; dan kebutuhan akan dukungan teknis. Dalam perencanaan, biasanya lebih menekankan ada persiapan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Dengan kata lain, kita menganggap bahwa sewaktu menyusun informasi ke dalam format tersebut, kita telah merencanakan suatu pembelajaran. Akan tetapi agar para siswa belajar secara mendalam dan penuh makna,ada tiga aspek yang harus dapat dipenuhi. Pertama, guru harus memiliki pemahaman yang mendalam mengenai materi yang diajarkan. Kedua, mereka harus memiliki kemampuan untuk menduga situasi pembelajaran yang riil, dan ketiga adalah kemampuan untuk memperkirakan situasi pembelajaran yang riil merupakan konsep yang sangat penting.

Dalam kaitannya dengan pengetahuan isi materi, para guru harus memikirkan tentang “tugas-tugas apa yang akan diberikan” atau “pertanyaanpertanyaan apa yang akan diberikan pada para siswa”. Kemudian, mereka juga harus memikirkan tentang “bagian-bagian mana yang bisa dengan mudah dipahami oleh para siswa” atau “sebaliknya, bagian-bagian mana yang mungkin sulit untuk mereka pahami”. tahapan plan mencakup empat langkah: (1) menganalisis topik, (2) menganalisis realita siswa, dan (3) membuat rencana pembelajaran, dan memeriksa rencana pembelajaran.

       Pelaksanaan dan observasi, Pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh guru model (guru buka kelas), guru yang lain sebagai pengamat. Guru model melakukan pembelajaran sesuai dengan sekenario yang disusun dalam RPP. guru sebagai observer melalukan pengamatan, pengamatan bukan terfokus pada penampilan guru yang mengajar, tetapi lebih diarahkan pada kegiatan belajar siswa dengan berpedoman pada prosedur dan instrumen yang telah disepakati pada tahap perencanaan. Pembelajaran adalah satu bentuk perilaku dan komunikasi manusia. Guna belajar dari perilaku dan komunikasi manusia, yang dibutuhkan adalah pengamatan yang cermat termasuk mengamati pesan-pesan non-verbal dari para siswa.

Para observer diharapkan untuk membuat catatan ketika mengamati siswa. seluruh pengamat menggunakan lembar pengamatan yang sama untuk mencatat temuan-temuan. Hal ini akan sangat berguna dalam melakukan refleksi, pada hal-hal yang penting pengamatan meliputi : 1) Kapan siswa mulai berkonsentrasi dalam pembelajaran 2) Kapan siswa berhenti berkonsentrasi dalam pembelajaran, 3) Pelajaran yang dipetik para pengamat dari kelas yang dibuka, 4) Sebagai latihan yang paling sesuai dalam mengamati siswa, 5) Adanya kecenderungan untuk menjawab pertanyaan tersebut secara dangkal, 6) Sulit untuk memperdalam diskusi, 7) Interaksi antara siswa dengan siswa,8) Interaksi antara siswa dengan guru ,9) interaksi antara siswa dengan materi,10) Interaksi antara siswa dengan sumber belajar.

       Refleksi, bertujuan untuk menemukan kelebihan dan kekurangan pelaksanaan pembelajaran. Dalam refleksi ada 4 peran, yaitu, moderator, guru model, guru observer, dan pakar.

Kegiatan diawali dengan penyampaian kesan dari guru model selanjutnya diberikan kepada pengamat. Kritik dan saran diarahkan dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran dan disampaikan secara bijak tanpa merendahkan atau menyakiti hati guru model. Masukan yang positif dapat digunakan untuk merancang kembali pembelajaran yang lebih baik. refleksi harus mengacu pada kenyataan atau bukti-bukti yang ditemukan oleh pengamat dalam pengamatan. Kenyataan serta bukti adalah fakta-fakta yang disadari oleh pengamat ketika kelas dibuka. Dalam menyampaikan komentar, sebaiknya mereka memulainya dengan menggambarkan kenyataan dari pembelajaran serta permasalahan siswa. Setelah itu, mereka bisa mulai menganalisis dan menunjukkan sebab-sebab apa saja yang telah mereka perkirakan. Tugas terpenting seorang moderator adalah menghidupkan diskusi antar peserta.. Moderator harus melihat apakah setelah peserta memberi ‘bukti-bukti’, mereka melanjutkannya dengan analisis.

Moderator harus memperhatikan apakah sebagian besar peserta telah menyampaikan pemikiran masing-masing tiap orang memiliki hak yang sama untuk menyampaikan sesuatu, dan terkadang, guru yang pendiam mungkin memiliki ide atau pendapat yang sangat bermakna. Peran moderator adalah memberi kesempatan bagi guru semacam ini untuk mengungkapkan pemikirannya Dalam penyampaian pendapat, jangan sampai terjadi diskiriminasi antar guru yang disebabkan oleh faktor pengalaman, usia, jenis kelamin, maupun status.

Lesson Study merupakan kegiatan yang dilakukan oleh para guru sendiri. Guru dapat belajar banyak dari temannya. Namun bimbingan teknis dari para pakar bisa menjadi sangat berguna apalagi dalam sesi refleksi. Komentar mereka dalam refleksi dapat menjadi contoh yang tepat tentang apa yang perlu diamati ketika kelas dibuka, apa yang perlu disampaikan saat refleksi, bagaimana mengungkapkan pemikiran mereka serta bagaimana bisa member sumbangsih ketika mengikuti refleksi. Para peserta lain bisa mempelajari dasar-dasar tersebut dari komentar pakar yang memenuhi syarat. Sebenarnya, ini merupakan satu-satunya jalan bagi guru peserta untuk belajar dan meningkatkan kemampuan yang dibutuhkan

Apabila guru-guru peserta lesson study mempunyai kesadaran, tanggung jawab dan komitmen yang tinggi dalam mengimplementasikan kegiatan ini, maka lesson study akan memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas proses belajar mengajar di kelas yang muaranya akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

(Penulis adalah Widyaiswara LPMP Kalteng)

oleh

Mardiyanta, S.Pd, M.Pd

NIP. 196603201990011001

Widyaiswara LPMP kalteng

 

  1. Latar Belakang

Berdasarkan hasil seminar Evaluasi Diri Sekolah/Madrasah (EDS/M) pada Kabupaten Pulang Pisau jenjang sekolah dasar yang dilaksanakan LPMP Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2012 pencapaian standar kompetensi lulusan adalah 58% atau tahap pengembangan 2 hal ini belum mencapai standar nasional pendidikan. Standar

Untuk membantu meningkatkan pemahaman guru tentang SKL, diadakan program mentoring ke SDN Pulang Pisau 5 dan SDN Mentaren 2 di Kabupaten pulang pisau. Dengan tujuannya untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan program mentoring pengembangan standar kompetensi lulusan tingkat sekolah dasar.

Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan program ini yaitu 1) Terciptanya satuan pendidikan dalam pemenuhan Standar Nasional Pendidikan; 2) Meningkatnya pemahaman pendidik tentang standar kompetensi lulusan. Standar kompetensi lulusan adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang peserta didik setelah melakukan proses pembelajaran. Continue reading

ribanWalikota Palangka Raya HM Riban Satia membuka acara Program Penguatan Kapasitas Lembaga Melalui Kegiatan In House Training Se – Kalimantan Tahun Anggaran 2015 yang dilaksanakan di Aula LPMP. Kegiatan dilaksanakan selama 3 hari, dengan tujuan meningkatkan kinerja pegawai melalui pemahaman tugas dan fungsi, menciptakan interaksi pegawai, mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan pegawai, meningkatkan motivasi dan budaya kerja, serta memfasilitasi ide gagasan best praktis antar LPMP.

Sementara itu dalam sambutannya Walikota mengatakan dimata dunia mutu pendidikan Indonesia masih rendah dibanding dengan negara lainnya khususnya di asia tenggara. Berdasarkan data The Learing Curve Pearson 2014, sebuah lembaga pemeringkatan pendidikan dunia, memaparkan jika iIndonesia menduduki posisi cukup rendah dalam mutu pendidikan diseluruh dunia. Indonesia menempati posisi ke 40 dengan indeks rangking dan nilai secara keseluruhan yakni minus 1,84. Sementara pada kategori kemampuan kognitif indeks rangking 2014 versus 2012, indonesia diberi nilai -1,71. Karena itulah lanjutnya, melihat data-data tersebut dirinya berharap LPMP sejalan dengan tugas dan fungsinya kegiatan ini dapat meningkatkan penguatan kapasitas sumber daya LPMP. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Walikota Palangka Raya Mofit Saptono, Kepala LPMP Kalteng Krisnayadi Tundan serta seluruh kepala LPMP dan pegawai LPMP Se Kalimantan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan kepala LPMP Jateng dan kepala PMPTK seni dan budaya Jakarta

panitiaPengembangan Keprofesian Berkelanjutan kepala sekolah/madrasah (PKB KSM-SD/MI) In Servis Learning 2, kepala sekolah memiliki peran yang sangat strategis dalam peningkatan kualitas pendidikan terutama berkaitan dengan upaya pengembangan sekolah. Permendiknas nomor 13 tahun 2007 tentang standar kepala sekolah/madrasah menetapkan dimensi kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Demikian dikatakan Kepala LPMP Kalteng Krisnayadi Toendan belum lama ini. Lebih jauh disebutkannya tugas dan fungsi kepala sekolah agar dapat dijalankan dengan baik maka kompetensi kepala sekolah harus senantiasa ditingkatkan. Peningkatan kompetensi kepala sekolah dapat melalui Pengembangan Profesi Berkebelanjutan (PKB). Hal ini juga dipertegas dalam permendiknas no 28 tahun 2010 yang menjelaskan kepala sekolah harus melakukan pengembangan keprofesian secara berkelanjutan dan berbasis kebutuhan kepala sekolah yang di sebut PKB-KS/M.

Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) adalah instansi pelaksana yang bertanggungjawab untuk melaksanakan program PKB KS/M untuk kepala SD/MI di kabupaten/kota yang menjadi tanggungjawab diwilayahnya. Belum lama ini LPMP Kalteng mengadakan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB SD/MI) in servis 2.

Sementara itu menurut ketua panitia kegiatan, Sari Parwati tujuan kegiatan secara umum adalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, ketrampilan, dan kinerja profesional kepala sekolah/madrasah dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran peserta didik, sedangkan secara khusus adalah untuk meningkatkan kompetensi kepala sekolah, kinerja kepala sekolah, kepemimpinan kepala sekolah, kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah, kepemimpinan manajerial kepala sekolah, kepemimpinan kewirausahaan.

Dijelaskannya Sasaran peserta dalam kegiatan ini dari 10 kabupaten/kota yaitu Palangka Raya, Pulang Pisau, Kobar, Gunung Mas, Kapuas, Murung Raya, Kotim, Barito Selatan, Lamandau dan Seruyan yang telah mengikuti kegiatan pengembangan keprofesian berkalanjutan sebelumnya tahap 1. Kegiatan dibagi dalam 3 gelombang.

Tempat pelaksanaan In Service Learning 2 di LPMP Kalteng mulai tanggal 7- 9 desember, gelombang 3 10-12 desember 2014.

Narasumber adalah Widyaiswara LPMP Kalteng, dosen Universitas Palangka Raya, dosen IAIN Palangka Raya dan beberapa kepala sekolah yang telah mendapatkan sertifikat kompetensi dalam ToT PKKSPS.

Adapun materi yang diberikan dalam kegiatan antara lain teknik pelaporan PKB, presentasi hasil pelaksanaan on the Job Learning (BPU prioritas 1 dan prioritas 2), berbagi pengalaman ON The Job Learning, penilian PKB KS/M per peserta oleh pengawas, dan RTL yang jumlahnya sebanyak 22 JP.

Sedangkan peserta adalah terdiri dari 8 pengawas pembinan dinas pendidikan kab/kota dan kantor kementerian agama yang sebelumnya mengikuti program PPKSPS dan 40 orang Kepala sekolah/madrasah binaan per Kabupaten/kota. (nng)

Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, manajemen sumber daya manusia (SDM) pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan formal perlu ditingkatkan. Peningkatan ini bisa dilakukan melalui beberapa program diantaranya dengan memperbaiki sistem pendataan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) melalui Sistem Informasi Manajemen Pangkalan Data Penjaminan Mutu Pendidikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (SIM PADAMU NEGERI). SIM PADAMU NEGERI dimaksudkan untuk mendata semua Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) mulai dari tingkat Provinsi/Kabupaten/ Kota/Kecamatan hingga nasional secara akurat, transparan dan online. Pendataan itu dilakukan untuk semua jenis pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) dan Satuan pendidikan. balum lama ini LPMP kalteng bekerjasama dengan seluruh dinas pendidikan kabupaten/kota mengadakan kegiatan workshop penyusunan profil PTK dan Satuan pendidikan se Kalimantan Tengah.

Hasil analisa pendataan akan digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan dalam menentukan kebutuhan dan rekrutmen Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK), pengambilan keputusan dalam pembinaan dan pemberdayaan PTK dan Satuan Pendidikan, mengetahui antara kesesuaian dan ketidaksesuaian-nya antara kualifikasi/kompetensi antara bidang keahlian yang dimiliki dengan mata pelajaran yang diajarkan sampai dengan pemberian penghargaan dan perlindungan bagi PTK pada masing-masing daerah secara tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi masing-masing daerah. Dari data tersebut para Stakeholder PTK akan mampu menganalisa potensi maupun kelemahan, serta mampu merumuskan arah kebijakan dalam upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan formal dan non formal di Indonesia.

Tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan ini adalah : Tersusunnya data dan peta profil PTK dan Satuan Pendidikan di Kabupaten/Kota tahun 2014, Termutakhirkannya data PTK dan Satuan Pendidikan kab/kota se-Kalimantan Tengah, Teranalisisnya data PTK dan Satuan Pendidikan kab/kota se-Kalimantan Tengah, Tersedianya buku Profil PTK dan Satuan pendidikan kab/kota se-Kalimantan Tengah tahun 2014.

Pelaksanaan kegiatan bertempat di hotel Hawai Palangkaraya, tanggal 17-18 November 2014. Peserta kegiatan adalah masing-masing 13 (tiga belas) orang Operator PADAMU NEGERI pada tiga belas Kabupaten dan 1 (satu ) Kota se Provinsi Kalimantan Tengah yang berjumlah 14 orang. Nara sumber dalam kegiatan adalah Staf Seksi SI LPMP Kalimantan Tengah, Juniadi, S.Kom, Ardian M. Fajar, S.Kom dan Kasie SI. Materi yang akan diberikan dalam dalam kegiatan ini yaitu : Analisis Data PTK dan Satuan Pendidikan, Langkah Pemutakhiran data PTK dan Satuan Pendidikan, Mekanisme pemutakhiran data PTK dan Satuan Pendidikan.

Oleh: Mustabirin Alam, MT

Abstrak

Implementasi kurikulum 2013 yang telah berjalan selama ini tidak terlepas dari berbagai kendala. Hal yang antara lain dikeluhkan orang tua siswa adalah banyaknya tugas yang harus diselesaikan siswa. Hal ini disebabkan sebagian pola pikir guru yang belum berubah dimana pengembangan intelejensia menjadi penekanan bukan kreativitas. Selain itu kurang dipahaminya peran guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran pendekatan saintifik

Kata Kunci: kurikulum 2013, kreativitas, peran guru, pendekatan saintifik

 

Pendahuluan

Pada bulan Juni 2014, secara marathon LPMP Kalteng menyelenggarakan pelatihan kurikulum 2013 untuk guru sasaran di berbagai daerah di seluruh kabupaten/kota pada Provinsi Kalimantan Tengah. Pelatihan ini diberikan untuk guru kelas I, II, IV dan V serta guru PJOK untuk jenjang SD; guru mata pelajaran pada kelas VII & VIII untuk SMP; Dan guru mata pelajaran pada kelas X dan XI untuk SMA/SMK. Selain itu, khusus untuk kepala sekolah juga diberi pelatihan tersendiri terkait manajemen pelaksanaan kurikulum 2013.

Hasil pelatihan kurikulum 2013 untuk guru sasaran mempunyai tujuan guru siap mengimplementasikan kurikulum 2013. Kondisi di lapangan yang penulis temukan bahwa sebagian guru belum berubah pola-pikirnya, cenderung mengimplementasikan secara kaku pendekatan saintifik tanpa memahami makna yang terkandung didalam melakukan pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Hal ini tergambar dari misalnya ungkapan orang tua siswa yang menyatakan kurikulum 2013 memang enak untuk guru tapi orang tua kelabakan karena cuma memberikan tugas dan Pekerjaan Rumah (PR) terus menerus. Akibatnya sebagian siswa harus ikut les atau bimbingan belajar lagi agar dapat paham dan menyesuaikan dengan bentuk pembelajaran yang dilakukan guru. Selain itu juga, di SD misalnya, ada guru yang menyatakan dengan pembelajaran tematik terpadu dan materi yang ada di buku siswa akan sulit menanamkan suatu konsep seperti pada kurikulum 2006. Hal yang sama pun terjadi, guru terpaksa memberi les tambahan untuk siswa-siswanya agar pemahaman konsep suatu materi dapat tercapai. Bisa dibayangkan bagaimana sebagian siswa-siswa di Kalimantan Tengah menghabiskan masa anak-anak dan remaja dengan les? Atau bisa dibayangkan bagaimana kalau siswa-siswa tersebut tidak mampu ikut les atau tidak tersedia tempat les?

Seperti yang penulis sebutkan di atas, kekakuan dalam impelementasi kurikulum 2013 khususnya dalam pembelajaran diakibatkan belum berubahnya pola-pikir. Padahal perubahan pola-pikir atau mindset merupakan salah satu mata diklat dalam pelatihan kurikulum 2013. Namun sayang alokasi waktunya sangat singkat dan lebih banyak berisi tantangan Indonesia ke depan serta pentingnya kurikulum 2013. Alokasi yang lebih lama ada baiknya diberikan untuk membuka dialog-dialog dalam rangka mengubah pola pikir lama dan penerimaan kurikulum 2013 sebagai suatu usaha peningkatan mutu dan tidak hanya karena diatur pemerintah harus menerapkan.

 

Perubahan Paradigma Pendidikan

Tahun kemaren, si Amir banyak mendapat pujian dari keluarga dan gurunya. Amir layak mendapat pujian karena nilai-nilai rapornya nyaris sempurna dan menyandang juara kelas. Berbeda dengan Rima yang juara terakhir di kelas itu, lebih banyak menunduk kehilangan percaya diri. Namun di akhir semester tahun ini, di rapor Amir dan Rima tidak lagi mencantumkan gelar juaranya. Kurikulum 2013 menerapkan penilaian sistem PAK (penilaian acuan kriteria) dimana siswa tidak dilihat rankingnya di kelas seperti apa tetapi bagaimana capaiannya terhadap Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan di sekolah itu. Sehingga orang tua siswa dan guru dapat melihat lebih jelas dimana kekuatan dan kelemahan siswa agar siswa-siswa seperti Rima dapat dibimbing dan lebih percaya diri bersekolah.

Dari sisi penilaian, kita semua sudah mafhum bahwa kurikulum 2013 menginginkan penilaian dilakukan tidak hanya dari pengetahuan saja melainkan mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. Namun tidak semua sadar bahwa paradigma pendidikan kita tidak hanya mengembangkan intelektual saja tetapi memilih mengembangkan kreativitas. Karena itu wajar bila guru ingin anak didiknya lebih berkembang intelektualnya dengan sering memberikan latihan-latihan atau tugas-tugas sementara pembelajaran dituntut berpusat pada siswa.

Menurut M. Nuh, mantan mendikbud, penelitian genetika yang dilakukan oleh Dyers, J.H. dkk menunjukkan 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh dari proses pendidikan dan 1/3 lainnya merupakan warisan genetika; Sedangkan kemampuan intelijensia seseorang merupakan kebalikan dari kreativitas, dimana 1/3 nya berasal dari pendidikan dan 2/3-nya merupakan keturunan. Sehingga pembelajaran dengan mengandalkan kemampuan intelijensia, hasilnya hanya meningkat 50%. Bandingkan jika diarahkan mengembangkan kreativitas, hasil peningkatannya bisa mencapai 200%. Banyak penelitian sudah menunjukkan bahwa kreativitas dapat dipelajari dan dapat diterapkan dimana saja, sehingga pendidikan harus diarahkan pada penguatan keterampilan kreatif. Orang-orang kreatif tidak hanya dilahirkan tapi juga dapat diciptakan.

Terdapat beberapa hukum dalam kreativitas, yakni (1) kreativitas itu menular (Einstein Law), (2) kretivitas itu benda gas (Nathan Law), (3) kreativitas hanya dibatasi oleh ambisi dan imajinasi, (4) berlaku hukum universal pengetahuan (Wiener). Pada kreativitas juga tidak berlaku hukum kekekalan massa, tidak berlaku hukum kekekalan energi, tidak berlaku hukum beda potensial. Hukum tersebut menjelaskan bahwa kreativitas merupakan sesuatu aktivitas yang bisa dipelajari bersama. Kegiatan yang dilakukan secara kolaboratif akan menularkan kreativitas dalam kelompoknya. Pada pelaksanaan pembelajaran guru juga perlu menyediakan “ruang” pada anak untuk mengembangkan kreativitasnya seluas mungkin karena kreativitas memiliki hukum layaknya gas yang menempati ruangnya. Untuk itu aktivitas pembelajaran hendaknya dirancang agar peserta didik bisa bebas mengeksplorasi ide-ide dan kemampuannya dalam mengerjakan tugas. Guru hendaknya menampung semua ide-ide tersebut, kemudian mendiskusikan bersama untuk menetapkan ide mana yang bisa diwujudkan. Dengan demikian peserta didik akan terbiasa untuk menggali potensi dan kreativitasnya dalam proses belajar.

Lebih jauh tentang kreativitas, Dyers, J.H. dkk dalam The Innovator’s DNA menyatakan bahwa inovator harus mempunyai ketrampilan yang pertama dan utama adalah kemampuan mengasosiasi atau menalar. Keterampilan ini dibutuhkan untuk menemukan keputusan atau kesimpulan baru dengan membuat hubungan antara pertanyaan-pertanyaan, masalah-masalah atau gagasan-gagasan yang kelihatannya tidak saling berhubungan. Empat keterampilan lain yang tidak kalah penting dan dibutuhkan untuk memicu keterampilan mengasosiasi atau menalar adalah keterampilan menanya (questioning), mengamati (observing), membuat jejaring (networking), dan mencoba (experimenting). Keterampilan menanya digunakan inovator untuk mengetahui bagaimana sesuatu itu bisa seperti sekarang, kenapa bisa seperti itu, dan bagaimana hal itu bisa berubah atau terganggu. Secara keseluruhan, pertanyaan-pertanyaan itu mendorong terbukanya wawasan, keterkaitan-keterkaitan, kemungkinan-kemungkinan dan keputusan-keputusan baru. Keterampilan mengamati membantu inovator membuka wawasan lebih dalam dan gagasan-gagasan untuk melakukan sesuatu dengan cara baru. Keterampilan membuat jejaring, seorang inovator selalu aktif mencari gagasan baru dengan berdiskusi dengan orang lain yang mungkin memberi pandangan yang berbeda dan radikal. Keterampilan mencoba yang dimiliki inovator membuatnya terus mencoba pengalaman baru dan menguji gagasan-gagasan baru. Mereka mengunjungi tempat-tempat baru, mencoba hal baru, mencari informasi baru, dan bereksperimen untuk belajar hal baru. Dyers, J.H. dkk menyatakan keterampilan kognitif (mengasosiasi) dan keterampilan behavioral (menanya, mengamati, membuat jejaring, dan mencoba) secara kesatuan membentuk DNA seorang inovator.

Implementasi kurikulum 2013 mengusung tema untuk dapat menghasilkan insan yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Oleh karena itu, perlu disadari paradigma pendidikan kita bukan menciptakan siswa-siswa yang mahir menyelesaikan soal dengan latihan atau tugas yang banyak tetapi memfasilitasi dan memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitasnya.

 

Peran guru dalam pendekatan saintifik

Pada standar proses yang diberlakukan dalam kurikulum 2006 diamanatkan pembelajaran ada tahapan eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi (atau lebih dikenal EEK). Pada kurikulum 2013, EEK tersebut dirinci lagi dalam pengalaman belajar dengan pendekatan saintik yang terdiri dari Mengamati, Menanya, Mencoba, Menalar/Mengasosiasi, dan Mengkomunikasikan (atau sering disebut 5M). Pembelajaran dengan pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013, salah satu acuannya adalah hasil penelitian Dyers, J.H. dkk dalam The Innovator’s DNA. Maka pembelajaran idealnya memberi ruang cukup bagi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya bukan dijejali dengan informasi atau tugas-tugas saja.

Para guru dalam pembelajaran kurikulum 2013 dituntut lebih kreatif dan tidak hanya mengandalkan buku guru dan buku siswa. Jangan sampaikan, pendidikan kita terjebak seperti istilah CBSA dulu yang diplesetkan menjadi Catat buku Sampai Abis menjadi Kerjakan Tugas di Buku Sampai Abis tetapi guru kurang memahami perannya sendiri dalam pembelajaran. Pola pikir yang berasumsi pokoknya selesaikan materi di buku siswa dan yang harus melakukan 5M adalah siswa sehingga peran guru lebih seperti pemberi tugas saja. Karena itu, jauh-jauh hari M. Nuh sewaktu sebagai Mendikbud mengamanatkan buku bukan satu-satunya sumber belajar bahkan di KTSP 2006 diamanatkan juga prinsip pembelajaran alam takambang (belajar dari alam sekitarnya).

Untungnya saat ini telah terbit Permendikbud baru di tahun 2014 menggantikan permendikbud lama di tahun 2013 tentang struktur kurikulum di masing-masing jenjang pendidikan. Pada permendikbud tersebut, misal Permendikbud No. 57 Tahun 2014 pengganti Permendikbud No. 67 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 SD/MI, pada lampiran III sudah terdapat pedoman pembelajaran yang menjelaskan peran guru dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan model-model pembelajaran yang dianjurkan. Pedoman pembelajaran di lampiran III pada permendikbud terkait kurikulum 2013 untuk setiap jenjang semestinya dimiliki dan dibaca oleh semua guru sehingga kekakuan dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 tidak menyebabkan hasil pembelajaran yang kontradiktif dari hasil pembelajaran kurikulum 2013 yang diharapkan selama ini.

Peran guru dalam pendekatan saintifik paling tidak bisa digambarkan sebagai berikut:

  1. Pada kegiatan Mengamati: guru membantu peserta didik menemukan/mendaftar/menginventarisasi apa saja yang ingin/perlu diketahui sehingga dapat melakukan/menciptakan sesuatu.
  2. Pada kegiatan Menanya: guru membantu peseserta didik merumuskan pertanyaan berdasarkan daftar hal-hal yang perlu/ingin diketahui agar dapat melakukan/menciptakan sesuatu.
  3. Pada kegiatan Mencoba/mengumpulkan data (informasi): guru membantu peserta didik merencanakan dan memperoleh data/informasi untuk menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan.
  4. Pada kegiatan Mengasosiasikan/menganalisis/mengolah data (informasi): guru membantu peserta didik mengolah/menganalisis data/informasi dan menarik kesimpulan
  5. Pada kegiatan Mengkomunikasikan: guru bertindak sebagai manager, pemberi umpan balik, pemberi penguatan, pemberi penjelasan/ informasi lebih luas.

 

Penutup

Impelementasi kurikulum 2013 diharapkan dapat membentuk generasi emas Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif. Untuk mewujudkan hal tersebut, implementasi pembelajaran dalam kurikulum 2013 dilakukan dengan pendekatan saintifik. Guru sebagai ujung tombak implementasi kurikulum 2013 diharapkan dapat mengubah pola pikir lama yang mengedepankan pembelajaran pada pengetahuan saja kepada pola pikir pembelajaran yang mengembangkan kemampuan sikap, pengetahuan dan keterampilan secara selaras serta menuntut peran guru dalam memfasilitasi pembelajaran. (penulis adalah Widyaiswara LPMP Kalteng)

Salah satu narasumber sedang menyampaikan materi

Dalam rangka persiapan pelaksanaan ProDEP tahun 2014, LPMP Kalteng mengadakan Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) implementasi ProDEP di hotel Luwansa Jl. G.Obos Palangkaraya.
 

Rapat kordinasi teknis dihadiri oleh Kabid Dinas Pendidikan Propinsi, Kadis Pendidikan Kab/Kota, Kabid Dikdas Pendidikan Kab/Kota, Kasie Mapenda Kemenag Kalteng, perwakilan BKD, operator PADAMU NEGERI Dinas Pendidikan Kab/Kota serta anggota DPRD propinsi bidang pendidikan.
 

Tujuan dari Rakortek tersebut, menurut Kepala LPMP Kalteng, Dr. Krisnayadi Toendan, M.Si adalah untuk menyamakan persepsi antara LPMP sebagai eligible entities (instansi pelaksana) program ProDEP dengan pemerintah propinsi/kabupaten/kota sasaran ProDEp, tentang pelaksanaan program ProDEP, selanjutkan mensosialisasikan mekanisme pelaksanaan dan menetapkan dan mengesahkan peserta program ProDEP.
 

Adapun narasumber/fasililtator pada kegiatan Rakortek ini terdiri atas unsur pimpinan pada LPMP Kalteng, unsur Widyaiswara LPMP yang lulus ToT dan Narasumber pusat (Perwakilan Pusbangtendik atau Advicer Component 2 SSA). Sdangkan materi antara lain pedoman juklak dan juknis pelaksanaan ProDEp, SM Diklat dan PADAMU NEGERI, Monev dan PAF, Complain Handling System dan penjelasan tentang sasaran kab/kota dan jadwal Implementasi program ProDEP.
 

Kegiatan dilaksanakan tanggal 19-21 Agustus 2014. Sebagaimana diketahui pada tahun 2013, Kemendikbud dan Pemerintah Australia telah sepakat untuk bekerjasama dalam perjanjian hibah untuk mendanai sebuah program pengembangan keprofesian bagi tenaga kependidikan yang dikenal dengan Professional Development for Education Personnel Programme (ProDEP) program tersebut berskala nasional dan tersebar di 250 kab/kota seluruh Indonesia. Perjanjian hibah ini merupakan bagian dari program kemitraan Australia dengan Indonesia (AEPI), tyang bertujuan membantu pemerintah Indonesia mengembangkan sebuah sistem nasional pengembangan keprofesian tenaga kependidikan. Sementara tujuan dari program ProDEP itu sendiri adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu kepemimpinan dan pengelolaan sekolah dan madrasah.