PENDIDIKAN YANG BERSTANDAR NASIONAL DAN BERWAWASAN GLOBAL

Berita

Oleh: Mustabirin Alam, MT

Abstrak

Implementasi kurikulum 2013 yang telah berjalan selama ini tidak terlepas dari berbagai kendala. Hal yang antara lain dikeluhkan orang tua siswa adalah banyaknya tugas yang harus diselesaikan siswa. Hal ini disebabkan sebagian pola pikir guru yang belum berubah dimana pengembangan intelejensia menjadi penekanan bukan kreativitas. Selain itu kurang dipahaminya peran guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran pendekatan saintifik

Kata Kunci: kurikulum 2013, kreativitas, peran guru, pendekatan saintifik

 

Pendahuluan

Pada bulan Juni 2014, secara marathon LPMP Kalteng menyelenggarakan pelatihan kurikulum 2013 untuk guru sasaran di berbagai daerah di seluruh kabupaten/kota pada Provinsi Kalimantan Tengah. Pelatihan ini diberikan untuk guru kelas I, II, IV dan V serta guru PJOK untuk jenjang SD; guru mata pelajaran pada kelas VII & VIII untuk SMP; Dan guru mata pelajaran pada kelas X dan XI untuk SMA/SMK. Selain itu, khusus untuk kepala sekolah juga diberi pelatihan tersendiri terkait manajemen pelaksanaan kurikulum 2013.

Hasil pelatihan kurikulum 2013 untuk guru sasaran mempunyai tujuan guru siap mengimplementasikan kurikulum 2013. Kondisi di lapangan yang penulis temukan bahwa sebagian guru belum berubah pola-pikirnya, cenderung mengimplementasikan secara kaku pendekatan saintifik tanpa memahami makna yang terkandung didalam melakukan pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Hal ini tergambar dari misalnya ungkapan orang tua siswa yang menyatakan kurikulum 2013 memang enak untuk guru tapi orang tua kelabakan karena cuma memberikan tugas dan Pekerjaan Rumah (PR) terus menerus. Akibatnya sebagian siswa harus ikut les atau bimbingan belajar lagi agar dapat paham dan menyesuaikan dengan bentuk pembelajaran yang dilakukan guru. Selain itu juga, di SD misalnya, ada guru yang menyatakan dengan pembelajaran tematik terpadu dan materi yang ada di buku siswa akan sulit menanamkan suatu konsep seperti pada kurikulum 2006. Hal yang sama pun terjadi, guru terpaksa memberi les tambahan untuk siswa-siswanya agar pemahaman konsep suatu materi dapat tercapai. Bisa dibayangkan bagaimana sebagian siswa-siswa di Kalimantan Tengah menghabiskan masa anak-anak dan remaja dengan les? Atau bisa dibayangkan bagaimana kalau siswa-siswa tersebut tidak mampu ikut les atau tidak tersedia tempat les?

Seperti yang penulis sebutkan di atas, kekakuan dalam impelementasi kurikulum 2013 khususnya dalam pembelajaran diakibatkan belum berubahnya pola-pikir. Padahal perubahan pola-pikir atau mindset merupakan salah satu mata diklat dalam pelatihan kurikulum 2013. Namun sayang alokasi waktunya sangat singkat dan lebih banyak berisi tantangan Indonesia ke depan serta pentingnya kurikulum 2013. Alokasi yang lebih lama ada baiknya diberikan untuk membuka dialog-dialog dalam rangka mengubah pola pikir lama dan penerimaan kurikulum 2013 sebagai suatu usaha peningkatan mutu dan tidak hanya karena diatur pemerintah harus menerapkan.

 

Perubahan Paradigma Pendidikan

Tahun kemaren, si Amir banyak mendapat pujian dari keluarga dan gurunya. Amir layak mendapat pujian karena nilai-nilai rapornya nyaris sempurna dan menyandang juara kelas. Berbeda dengan Rima yang juara terakhir di kelas itu, lebih banyak menunduk kehilangan percaya diri. Namun di akhir semester tahun ini, di rapor Amir dan Rima tidak lagi mencantumkan gelar juaranya. Kurikulum 2013 menerapkan penilaian sistem PAK (penilaian acuan kriteria) dimana siswa tidak dilihat rankingnya di kelas seperti apa tetapi bagaimana capaiannya terhadap Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan di sekolah itu. Sehingga orang tua siswa dan guru dapat melihat lebih jelas dimana kekuatan dan kelemahan siswa agar siswa-siswa seperti Rima dapat dibimbing dan lebih percaya diri bersekolah.

Dari sisi penilaian, kita semua sudah mafhum bahwa kurikulum 2013 menginginkan penilaian dilakukan tidak hanya dari pengetahuan saja melainkan mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. Namun tidak semua sadar bahwa paradigma pendidikan kita tidak hanya mengembangkan intelektual saja tetapi memilih mengembangkan kreativitas. Karena itu wajar bila guru ingin anak didiknya lebih berkembang intelektualnya dengan sering memberikan latihan-latihan atau tugas-tugas sementara pembelajaran dituntut berpusat pada siswa.

Menurut M. Nuh, mantan mendikbud, penelitian genetika yang dilakukan oleh Dyers, J.H. dkk menunjukkan 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh dari proses pendidikan dan 1/3 lainnya merupakan warisan genetika; Sedangkan kemampuan intelijensia seseorang merupakan kebalikan dari kreativitas, dimana 1/3 nya berasal dari pendidikan dan 2/3-nya merupakan keturunan. Sehingga pembelajaran dengan mengandalkan kemampuan intelijensia, hasilnya hanya meningkat 50%. Bandingkan jika diarahkan mengembangkan kreativitas, hasil peningkatannya bisa mencapai 200%. Banyak penelitian sudah menunjukkan bahwa kreativitas dapat dipelajari dan dapat diterapkan dimana saja, sehingga pendidikan harus diarahkan pada penguatan keterampilan kreatif. Orang-orang kreatif tidak hanya dilahirkan tapi juga dapat diciptakan.

Terdapat beberapa hukum dalam kreativitas, yakni (1) kreativitas itu menular (Einstein Law), (2) kretivitas itu benda gas (Nathan Law), (3) kreativitas hanya dibatasi oleh ambisi dan imajinasi, (4) berlaku hukum universal pengetahuan (Wiener). Pada kreativitas juga tidak berlaku hukum kekekalan massa, tidak berlaku hukum kekekalan energi, tidak berlaku hukum beda potensial. Hukum tersebut menjelaskan bahwa kreativitas merupakan sesuatu aktivitas yang bisa dipelajari bersama. Kegiatan yang dilakukan secara kolaboratif akan menularkan kreativitas dalam kelompoknya. Pada pelaksanaan pembelajaran guru juga perlu menyediakan “ruang” pada anak untuk mengembangkan kreativitasnya seluas mungkin karena kreativitas memiliki hukum layaknya gas yang menempati ruangnya. Untuk itu aktivitas pembelajaran hendaknya dirancang agar peserta didik bisa bebas mengeksplorasi ide-ide dan kemampuannya dalam mengerjakan tugas. Guru hendaknya menampung semua ide-ide tersebut, kemudian mendiskusikan bersama untuk menetapkan ide mana yang bisa diwujudkan. Dengan demikian peserta didik akan terbiasa untuk menggali potensi dan kreativitasnya dalam proses belajar.

Lebih jauh tentang kreativitas, Dyers, J.H. dkk dalam The Innovator’s DNA menyatakan bahwa inovator harus mempunyai ketrampilan yang pertama dan utama adalah kemampuan mengasosiasi atau menalar. Keterampilan ini dibutuhkan untuk menemukan keputusan atau kesimpulan baru dengan membuat hubungan antara pertanyaan-pertanyaan, masalah-masalah atau gagasan-gagasan yang kelihatannya tidak saling berhubungan. Empat keterampilan lain yang tidak kalah penting dan dibutuhkan untuk memicu keterampilan mengasosiasi atau menalar adalah keterampilan menanya (questioning), mengamati (observing), membuat jejaring (networking), dan mencoba (experimenting). Keterampilan menanya digunakan inovator untuk mengetahui bagaimana sesuatu itu bisa seperti sekarang, kenapa bisa seperti itu, dan bagaimana hal itu bisa berubah atau terganggu. Secara keseluruhan, pertanyaan-pertanyaan itu mendorong terbukanya wawasan, keterkaitan-keterkaitan, kemungkinan-kemungkinan dan keputusan-keputusan baru. Keterampilan mengamati membantu inovator membuka wawasan lebih dalam dan gagasan-gagasan untuk melakukan sesuatu dengan cara baru. Keterampilan membuat jejaring, seorang inovator selalu aktif mencari gagasan baru dengan berdiskusi dengan orang lain yang mungkin memberi pandangan yang berbeda dan radikal. Keterampilan mencoba yang dimiliki inovator membuatnya terus mencoba pengalaman baru dan menguji gagasan-gagasan baru. Mereka mengunjungi tempat-tempat baru, mencoba hal baru, mencari informasi baru, dan bereksperimen untuk belajar hal baru. Dyers, J.H. dkk menyatakan keterampilan kognitif (mengasosiasi) dan keterampilan behavioral (menanya, mengamati, membuat jejaring, dan mencoba) secara kesatuan membentuk DNA seorang inovator.

Implementasi kurikulum 2013 mengusung tema untuk dapat menghasilkan insan yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Oleh karena itu, perlu disadari paradigma pendidikan kita bukan menciptakan siswa-siswa yang mahir menyelesaikan soal dengan latihan atau tugas yang banyak tetapi memfasilitasi dan memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitasnya.

 

Peran guru dalam pendekatan saintifik

Pada standar proses yang diberlakukan dalam kurikulum 2006 diamanatkan pembelajaran ada tahapan eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi (atau lebih dikenal EEK). Pada kurikulum 2013, EEK tersebut dirinci lagi dalam pengalaman belajar dengan pendekatan saintik yang terdiri dari Mengamati, Menanya, Mencoba, Menalar/Mengasosiasi, dan Mengkomunikasikan (atau sering disebut 5M). Pembelajaran dengan pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013, salah satu acuannya adalah hasil penelitian Dyers, J.H. dkk dalam The Innovator’s DNA. Maka pembelajaran idealnya memberi ruang cukup bagi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya bukan dijejali dengan informasi atau tugas-tugas saja.

Para guru dalam pembelajaran kurikulum 2013 dituntut lebih kreatif dan tidak hanya mengandalkan buku guru dan buku siswa. Jangan sampaikan, pendidikan kita terjebak seperti istilah CBSA dulu yang diplesetkan menjadi Catat buku Sampai Abis menjadi Kerjakan Tugas di Buku Sampai Abis tetapi guru kurang memahami perannya sendiri dalam pembelajaran. Pola pikir yang berasumsi pokoknya selesaikan materi di buku siswa dan yang harus melakukan 5M adalah siswa sehingga peran guru lebih seperti pemberi tugas saja. Karena itu, jauh-jauh hari M. Nuh sewaktu sebagai Mendikbud mengamanatkan buku bukan satu-satunya sumber belajar bahkan di KTSP 2006 diamanatkan juga prinsip pembelajaran alam takambang (belajar dari alam sekitarnya).

Untungnya saat ini telah terbit Permendikbud baru di tahun 2014 menggantikan permendikbud lama di tahun 2013 tentang struktur kurikulum di masing-masing jenjang pendidikan. Pada permendikbud tersebut, misal Permendikbud No. 57 Tahun 2014 pengganti Permendikbud No. 67 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 SD/MI, pada lampiran III sudah terdapat pedoman pembelajaran yang menjelaskan peran guru dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan model-model pembelajaran yang dianjurkan. Pedoman pembelajaran di lampiran III pada permendikbud terkait kurikulum 2013 untuk setiap jenjang semestinya dimiliki dan dibaca oleh semua guru sehingga kekakuan dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 tidak menyebabkan hasil pembelajaran yang kontradiktif dari hasil pembelajaran kurikulum 2013 yang diharapkan selama ini.

Peran guru dalam pendekatan saintifik paling tidak bisa digambarkan sebagai berikut:

  1. Pada kegiatan Mengamati: guru membantu peserta didik menemukan/mendaftar/menginventarisasi apa saja yang ingin/perlu diketahui sehingga dapat melakukan/menciptakan sesuatu.
  2. Pada kegiatan Menanya: guru membantu peseserta didik merumuskan pertanyaan berdasarkan daftar hal-hal yang perlu/ingin diketahui agar dapat melakukan/menciptakan sesuatu.
  3. Pada kegiatan Mencoba/mengumpulkan data (informasi): guru membantu peserta didik merencanakan dan memperoleh data/informasi untuk menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan.
  4. Pada kegiatan Mengasosiasikan/menganalisis/mengolah data (informasi): guru membantu peserta didik mengolah/menganalisis data/informasi dan menarik kesimpulan
  5. Pada kegiatan Mengkomunikasikan: guru bertindak sebagai manager, pemberi umpan balik, pemberi penguatan, pemberi penjelasan/ informasi lebih luas.

 

Penutup

Impelementasi kurikulum 2013 diharapkan dapat membentuk generasi emas Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif. Untuk mewujudkan hal tersebut, implementasi pembelajaran dalam kurikulum 2013 dilakukan dengan pendekatan saintifik. Guru sebagai ujung tombak implementasi kurikulum 2013 diharapkan dapat mengubah pola pikir lama yang mengedepankan pembelajaran pada pengetahuan saja kepada pola pikir pembelajaran yang mengembangkan kemampuan sikap, pengetahuan dan keterampilan secara selaras serta menuntut peran guru dalam memfasilitasi pembelajaran. (penulis adalah Widyaiswara LPMP Kalteng)

Salah satu narasumber sedang menyampaikan materi

Dalam rangka persiapan pelaksanaan ProDEP tahun 2014, LPMP Kalteng mengadakan Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) implementasi ProDEP di hotel Luwansa Jl. G.Obos Palangkaraya.
 

Rapat kordinasi teknis dihadiri oleh Kabid Dinas Pendidikan Propinsi, Kadis Pendidikan Kab/Kota, Kabid Dikdas Pendidikan Kab/Kota, Kasie Mapenda Kemenag Kalteng, perwakilan BKD, operator PADAMU NEGERI Dinas Pendidikan Kab/Kota serta anggota DPRD propinsi bidang pendidikan.
 

Tujuan dari Rakortek tersebut, menurut Kepala LPMP Kalteng, Dr. Krisnayadi Toendan, M.Si adalah untuk menyamakan persepsi antara LPMP sebagai eligible entities (instansi pelaksana) program ProDEP dengan pemerintah propinsi/kabupaten/kota sasaran ProDEp, tentang pelaksanaan program ProDEP, selanjutkan mensosialisasikan mekanisme pelaksanaan dan menetapkan dan mengesahkan peserta program ProDEP.
 

Adapun narasumber/fasililtator pada kegiatan Rakortek ini terdiri atas unsur pimpinan pada LPMP Kalteng, unsur Widyaiswara LPMP yang lulus ToT dan Narasumber pusat (Perwakilan Pusbangtendik atau Advicer Component 2 SSA). Sdangkan materi antara lain pedoman juklak dan juknis pelaksanaan ProDEp, SM Diklat dan PADAMU NEGERI, Monev dan PAF, Complain Handling System dan penjelasan tentang sasaran kab/kota dan jadwal Implementasi program ProDEP.
 

Kegiatan dilaksanakan tanggal 19-21 Agustus 2014. Sebagaimana diketahui pada tahun 2013, Kemendikbud dan Pemerintah Australia telah sepakat untuk bekerjasama dalam perjanjian hibah untuk mendanai sebuah program pengembangan keprofesian bagi tenaga kependidikan yang dikenal dengan Professional Development for Education Personnel Programme (ProDEP) program tersebut berskala nasional dan tersebar di 250 kab/kota seluruh Indonesia. Perjanjian hibah ini merupakan bagian dari program kemitraan Australia dengan Indonesia (AEPI), tyang bertujuan membantu pemerintah Indonesia mengembangkan sebuah sistem nasional pengembangan keprofesian tenaga kependidikan. Sementara tujuan dari program ProDEP itu sendiri adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu kepemimpinan dan pengelolaan sekolah dan madrasah.
 

Kepada Pengawas, Kepsek dan Guru di seluruh Indonesia,
BPSDMPK Kemdikbud bekerjasama dengan Pemerintah Australia menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan ProDEP (Professional Development for Education Personnnel) untuk jenjang SD/MI dan SMP/MTs mulai Juli 2014. Pelaksanaan kegiatan tersebut menggunakan Sistem PADAMU NEGERI untuk proses ajuan dan seleksi para peserta Diklat ProDEP. Beberapa program ProDEP yang menggunakan Sistem PADAMU NEGERI dimaksud antara lain:
 
PPKSPS (Program Pendampingan Kepala Sekolah/Madrasah oleh Pengawas Sekolah) bagi Pengawas Sekolah/Madrasah
PKB (Program Keprofesian Berkelanjutan) bagi Kepala Sekolah
PPCKS (Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah) bagi Guru
 
Kegiatan program ProDEP sepenuhnya bebas biaya dengan kuota terbatas. Sehubungan dengan program tersebut para calon peserta (Pengawas, Kepsek dan Guru) dihimbau melakukan pemutakhiran data Portofolio Personalnya menggunakan akun login masing-masing di PADAMU NEGERI sebagai dasar seleksi calon peserta terpilih program ProDEP. Surat Edaran pendukung kegiatan tersebut dapat diunduh berikut:
 
Surat Edaran Program ProDEP PPKSPS dan PKB
Surat Edaran Program ProDEP PPCKS
 
Demikian informasi ini disampaikan, semoga dengan adanya program ProDEP ini dapat lebih meningkatan kualitas dan profesionalisme para Pengawas, Kepsek dan Guru Calon Kepsek secara berkelanjutan.
 
Uji Kompetensi Guru 2014 akan dilaksanakan pada tanggal 4 s.d. 8 Maret 2014 secara online, PTK yang telah terdaftar dapat mengambil Kartu Uji Kompetensi Guru melalui panitia sertifikasi guru di Dinas Kabupaten/Kota setempat, sebelum pelaksanaan.
 
Jadwal pelaksanaan, Nomor peserta, dan Tempat Pelaksanaan Uji Kompetensi dapat dilihat dalam Kartu Peserta.

 

Pembaruan Data Calon Peserta Sertifikasi 2014
Pembaruan data AP2SG dengan database NUPTK akan dilakukan per tgl 1 januari 2014. Cek ulang kebenaran informasi database NUPTK dan segera perbaiki bila perlu melalui situs PADAMU NEGERI terutama informasi berikut,
– Tanggal Lahir
– TMT Pendidik
– Golongan
– Jenjang Pendidikan Terakhir

 
Verifikasi Calon Peserta Sertifikasi 2014
Berikut tahap pelaksanaan verifikasi calon peserta sertifikasi guru tahun 2014 :
1. Tahap verifikasi Data:
– Tahap 1. Verifikasi data peserta UKG 2013 dan belum terdaftar sebagai peserta sertifikasi guru 2013
– Tahap 2. Verifikasi dan penambahan data calon peserta
2. Persiapan dan pelaksanaan UKG bagi calon baru
3. Evaluasi calon tidak lulus PLPG 2013
4. Tahap penetapan Peserta

 
Lain-lain
Selama proses sertifikasi pendidik, pada tahap sebelum maupun sesudahnya, tidak dipungut biaya apapun
Sumber: http://sergur.kemdiknas.go.id/sg13/

 
Salam PADAMU NEGERI INDONESIAku
Admin Pusat
BPSDMPK Kemdikbud

Pengumuman Nomor: 1130/J40/KP/2013 Tentang Penerimaan CPNS di Lingkungan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2013
 
Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 164/P/2013 tanggal 11 September 2013 dan Rapat Koordinasi Penerimaan CPNS Tahun 2013 tanggal 11 s.d. 13 September 2013, Unit Utama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK-PMP) melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Kalimantan Tengah akan menerima CPNS sejumlah 4 (empat) orang dengan rincian sebagai berikut:
 

No. Jabatan Tingkat Pendidikan Gol/Ruang Kualifikasi Akademik Jumlah Formasi Penempatan
1. Perancang Pemetaan Mutu Pendidikan S1 III/a Statistika 2 Seksi Pemetaan Mutu dan Supervisi
2. Penyiap Bahan dan Rencana Diklat S1 III/a Pendidikan Bahasa Indonesia 1 Seksi Fasilitasi Peningkatan Mutu Pendidikan
3. Perancang Program Pendidikan S1 III/a Pendidikan Kimia 1 Seksi Fasilitasi Peningkatan Mutu Pendidikan

 

I. Informasi Umum
1. Penerimaan pendaftaran secara online di laman https://cpns.kemdikbud.go.id mulai tanggal 23 September s.d. 7 Oktober 2013. Prosedur pendaftaran secara online dapat dilihat pada laman https://cpns.kemdikbud.go.id
2. Setiap pelamar diperkenankan melamar hanya 1 (satu) unit kerja dan 1 (satu) kualifikasi pendidikan. Pengiriman lebih dari satu lamaran tidak akan terproses oleh sistem
3. Proses seleksi dilaksanakan dalam 3 (tiga) tahap berikut:
a. Seleksi administrasi.
b. Test Kompetensi Dasar (TKD), dengan cakupan materi meliputi Test Wawasan Kebangsaan, Test Inteligensia Umum, dan Test Karakteristik Pribadi.
c. Test Kompetensi Bidang.
d. Wawancara.
II. Ketentuan Lain-Lain
1. Hal-hal lain yang belum diatur akan ditetapkan dan diumumkan kemudian.
2. Pelamar wajib mematuhi dan mengikuti ketentuan yang ditetapkan.

 
Download pengumuman selengkapnya:
 
Download

 

Uji Kompetensi Guru 2013 akan dilaksanakan pada tanggal 3 s.d. 15 Juni 2013 secara online, PTK yang telah terdaftar dapat mengambil Kartu Uji Kompetensi Guru melalui panitia sertifikasi guru di Dinas Kabupaten/Kota setempat, sebelum pelaksanaan.
 
Jadwal pelaksanaan, Nomor peserta, dan Tempat Pelaksanaan Uji Kompetensi dapat dilihat dalam Kartu Peserta.